Soroti Akar Sosial Stunting, Guru Besar UMB Palopo Jadi Narasumber Kunci di Makassar

Soroti Akar Sosial Stunting, Guru Besar UMB Palopo Jadi Narasumber Kunci di Makassar

MAKASSAR, JIVANOTES – Upaya percepatan penurunan stunting di Sulawesi Selatan (Sulsel) memasuki babak baru dengan penekanan pada aspek sosial. Prof. Dr. Arlin Adam, SKM., M.Si, Guru Besar Universitas Mega Buana (UMB) Palopo, hadir sebagai narasumber utama dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penyusunan Laporan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Semester II Provinsi Sulawesi Selatan.

Rakor yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3A-Dalduk KB) Provinsi Sulsel ini berlangsung di Hotel Dalton Makassar. Kehadiran Prof. Arlin berdasarkan undangan resmi bernomor $400.2/3267/DP3A-DALDUK KB$ tertanggal 5 Desember 2025.

Dalam materinya yang bertajuk “Perspektif Sosiologi Kesehatan dalam Analisis Data dan Penyusunan Laporan TPPS Semester II,” Prof. Arlin menegaskan bahwa stunting adalah fenomena kompleks yang melampaui masalah gizi atau medis semata.

“Stunting dipengaruhi oleh berbagai struktur sosial, budaya, perilaku kesehatan, relasi kekuasaan, hingga konteks komunitas,” jelasnya di hadapan perwakilan OPD, koordinator TPPS kabupaten/kota, dan pemangku kebijakan.

Prof. Arlin menekankan pentingnya pendekatan sosiologi kesehatan untuk membaca data stunting secara komprehensif. Ini mencakup pemahaman faktor-faktor seperti ketimpangan wilayah, pendidikan ibu, kondisi ekonomi keluarga, dan praktik budaya yang memengaruhi pola pengasuhan.

“Data kuantitatif seperti SSGI, EPGBM, dan Regsosek penting, tetapi interpretasinya harus berorientasi sosial. Kita perlu melihat why behind the numbers,” tegasnya.

Dorong Laporan Berbasis Konteks Sosial

Guru Besar UMB Palopo ini memaparkan kerangka analisis berbasis teori-teori sosiologi kesehatan, termasuk Determinasi Sosial Kesehatan dan Social Capital, untuk menjelaskan variasi risiko stunting antarwilayah di Sulsel.

Ia mendorong pemerintah daerah untuk menyusun laporan TPPS yang tidak hanya menyajikan angka, tetapi juga menggambarkan konteks sosial, kearifan lokal, modal sosial, serta rekomendasi lintas sektor yang lebih aplikatif dan kontekstual.

Kepala DP3A-Dalduk KB Provinsi Sulsel, Andi Mirna, S.H., M.A.P, mengapresiasi kontribusi keilmuan Prof. Arlin. Menurutnya, perspektif sosiologis sangat krusial untuk memperkuat perencanaan dan evaluasi kebijakan penurunan stunting di daerah.

Rakor ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas laporan TPPS dan memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat pencapaian target penurunan stunting di Sulawesi Selatan.

Comment