Taruna Ikrar Dorong Investasi Rp6.000 Triliun dari Singapura, Hilirisasi Kesehatan Jadi Kunci

Taruna Ikrar Dorong Investasi Rp6.000 Triliun dari Singapura, Hilirisasi Kesehatan Jadi Kunci

SINGAPURA, JIVANOTES — Pemerintah Indonesia terus memperkuat diplomasi ekonomi di sektor kesehatan. Kali ini, Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menggandeng Duta Besar RI untuk Singapura, Hotmangaradja Pandjaitan, guna mendorong investasi berbasis hilirisasi industri kesehatan dengan potensi mencapai Rp6.000 triliun.

Pertemuan strategis berlangsung di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura. Dalam forum tersebut, kedua pihak membahas langkah konkret memperluas kerja sama investasi pada sektor obat, pangan, kosmetik, dan produk kesehatan lainnya.

Hotmangaradja menegaskan bahwa Singapura memiliki posisi penting sebagai mitra strategis. Negara itu unggul dalam riset biomedis, manufaktur, serta ekosistem inovasi global. Karena itu, ia aktif memfasilitasi pelaku usaha agar menanamkan modal di Indonesia.

“Dengan penguatan regulasi dan pengakuan global terhadap BPOM, Indonesia kini semakin kredibel dan kompetitif untuk menarik investasi sektor kesehatan,” ujarnya.

Sementara itu, Taruna Ikrar menekankan bahwa hilirisasi tidak sekadar proses industri. Ia menyebut langkah ini sebagai strategi besar negara untuk membangun kemandirian sekaligus meningkatkan daya saing global.

“Total nilai ekonomi sektor yang berada dalam pengawasan BPOM mencapai sekitar Rp6.000 triliun. Ini menjadi kekuatan ekonomi nasional yang harus dijaga kualitasnya dan terus didorong menembus pasar global,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor melalui konsep ABG (Academic, Business, Government). Menurutnya, pendekatan ini mampu mempercepat inovasi dan hilirisasi industri kesehatan nasional.

Dalam skema tersebut, perguruan tinggi dan lembaga riset menghasilkan inovasi berbasis sains. Selanjutnya, industri memperkuat produksi dan komersialisasi. Di sisi lain, pemerintah memastikan regulasi berjalan adaptif dan berstandar internasional.

“Negara tidak bisa bekerja sendiri. Kampus melahirkan inovasi, industri mempercepat hilirisasi, dan pemerintah menjamin kepercayaan melalui regulasi yang kuat. Di sinilah BPOM berperan sebagai penjaga mutu sekaligus akselerator pertumbuhan,” tegasnya.

Pertemuan ini juga membuka peluang kolaborasi konkret antara Indonesia dan Singapura. Fokus kerja sama mencakup pengembangan terapi bioteknologi, transfer teknologi, hingga peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.

Dengan pengakuan global melalui status WHO Listed Authority (WLA), BPOM semakin memperkuat posisi Indonesia di mata investor internasional. Oleh karena itu, Indonesia kini tidak hanya menjadi pasar, tetapi mulai bergerak menjadi pusat pertumbuhan baru industri kesehatan dunia.

Comment