Penyakit Bangsa dan Jalan Menuju Kesembuhan

dr. Wachyudi Muchsin,

Oleh: Wachyudi Muchsin

JIVANOTES – Delapan puluh tahun lebih Indonesia merdeka. Sang Merah Putih masih gagah berkibar, namun bila kita jujur menatap ke dalam, negeri tercinta ini sedang kurang sehat. Bukan sekadar penyakit fisik, melainkan juga penyakit sosial, mental, dan moral yang perlahan menggerogoti sendi kehidupan bangsa.

Kesehatan rakyat adalah wajah sejati Indonesia. Hingga kini, 1 dari 4 anak mengalami stunting—prevalensi nasional 19,8 % pada 2024 (sekitar 4,48 juta balita)—meski menurun dari 21,5 %, masih jauh dari target 18 % di 2025. Bentuk gizi buruk lain juga mengkhawatirkan: wasting 7,7 %, underweight 17,1 %, plus obesitas (12,8 % anak usia 5–12 tahun dan 26,7 % orang dewasa) akibat pola makan tak seimbang.

Tekanan sosial‑ekonomi turut menambah beban: Tingkat Pengangguran Terbuka 4,76 % (~7,28 juta orang), rekor terendah sejak 1998, tetapi jumlah pengangguran absolut meningkat. Kemiskinan ekstrem menimpa lebih dari 9 juta jiwa. Seolah tubuh bangsa tergopoh menghela napas; berdiri, tapi kerap goyah.

Kini, demonstrasi besar menambah demam moral nasional. Protes marak dipicu oleh tunjangan tinggi anggota DPR, kenaikan harga-harga, dan ketidakadilan. Dalam bentrokan, seorang pengemudi ojol tewas tertabrak mobil Brimob menyalakan kemarahan publik dan memicu gelombang protes di Jakarta, Surabaya, Makassar, Yogyakarta, dan kota lain.

Gedung DPRD dibakar, transportasi lumpuh, sekolah diliburkan, mall-mall ditutup dampak nyata muncul dari jiwa yang gundah. Aksi-aksi ini mengguncang pasar keuangan: IHSG anjlok sekitar -2 % hingga -4 %, dan rupiah melemah nyaris 1 %. Bank Indonesia serta otoritas bursa langsung turun tangan untuk menstabilkan kondisi pasar.

Lebih dari fisik, jiwa bangsa merasa rapuh. Perpecahan, korupsi, dan ketidakadilan mengikis semangat gotong royong. Seperti kata Bung Hatta: “Indonesia tidak akan besar karena obor di Jakarta, tetapi akan bercahaya karena lilin di desa.” Itu mengingatkan kita bahwa kesehatan bangsa bergantung dari hati rakyat, bukan hanya pusat kekuasaan.

Meski demikian, tubuh yang sakit masih bisa pulih. Bangsa ini dibangun dengan doa, pengorbanan, dan cinta. Persatuan adalah obat, gotong royong adalah vitamin, dan kasih sayang adalah imun collektif paling kokoh. Pandemik Covid 19 pernah, krisis pernah; kini Indonesia berdiri lagi. DNA bangsa ini adalah daya sembuh.

Kita masing-masing adalah “dokter kecil” bagi negeri. Dengan kejujuran, kepedulian, kesederhanaan, dan iman, kita menyembuhkan luka moral nasional. Pemerintah, akademisi, pengusaha, tokoh agama, dan masyarakat semuanya punya andil kita tidak boleh hanya jadi penonton. Tindakan kecil, kebaikan nyata, dan doa yang tulus menjadi energi pemulih.

Negeri tercinta memang sedang kurang sehat. Namun, kalau tubuh yang sakit bisa bangkit, pasti bangsa ini juga bisa. Merdeka sejati bukan hanya soal lepas penjajahan, tapi juga tumbuh sehat lahir dan batin. Sehat tubuh, sehat jiwa, sehat bangsa. Mari kita rawat Indonesia dengan cinta, agar bugar kembali dan berjalan mantap menuju Indonesia Emas 2045.

“Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan kesembuhan bagi negeri ini, menyehatkan tubuh rakyatnya, dan meneguhkan jiwa bangsa agar tetap kuat hingga akhir zaman.”

Comment