BPOM Pecahkan Rekor dengan Gebyar ABG: Kolaborasi Akademisi-Bisnis-Pemerintah Jadi Mesin Inovasi Obat Nasional

BPOM Pecahkan Rekor dengan Gebyar ABG: Kolaborasi Akademisi-Bisnis-Pemerintah Jadi Mesin Inovasi Obat Nasional

JAKARTA, BERITA-SULSEL.COM – Halaman kantor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menjadi saksi digelarnya Gebyar Academia, Business, Government (ABG) Collaboration. Acara yang diinisiasi Kepala BPOM, Taruna Ikrar, ini berhasil memecahkan Rekor Prestasi Indonesia Dunia sebagai pelopor kolaborasi ABG dengan peserta terbanyak.

Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati satu tahun Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo–Gibran, sekaligus menjadi etalase konsep ABG yang didorong BPOM sebagai mesin transformasi sektor obat dan makanan nasional.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membuka acara secara daring, menekankan pentingnya inisiasi dan kolaborasi sebagai kunci kemajuan. “BPOM kini, selain regulator pengawasan obat dan makanan, juga telah menjadi generator ekosistem inovasi,” ujar Wapres Gibran.

Taruna Ikrar, dalam sambutannya, menegaskan komitmennya: “Kami ingin ruang inovasi Indonesia terus tumbuh melalui kontribusi akademisi, dunia usaha, dan pemerintah.”

Menggeser Peran BPOM: Dari Pengawas ke Mitra Inovasi

Melalui konsep ABG, Taruna Ikrar berupaya menggeser wajah BPOM dari sekadar menara pengawas menjadi fasilitator dan mitra inovasi. Konsep ini menempatkan:

  • Akademisi sebagai mesin riset dan pembentuk SDM unggul.

  • Business sebagai penggerak hilirisasi dan komersialisasi.

  • Government (diwakili BPOM) sebagai penjamin keamanan dan mutu, sekaligus akselerator kebijakan.

Strategi ini bertujuan untuk mengatasi masalah utama sektor kesehatan, yaitu ketergantungan impor Bahan Baku Obat (BBO) yang mencapai 90 persen. “Riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Kita butuh sinergi agar Indonesia mampu mandiri dan melahirkan produk inovatif sendiri,” tegas Taruna.

Forum Bisnis dan MoU Internasional

Acara Gebyar ABG dipenuhi dengan kegiatan penting, termasuk penandatanganan puluhan Nota Kesepahaman (MoU) antara BPOM dengan sejumlah rektor dan pimpinan industri, termasuk dari enam negara, yaitu India, Cina, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, dan Indonesia.

Expo inovasi juga digelar, menampilkan deretan stan dari universitas, startup kesehatan, industri farmasi, hingga UMKM. Forum panel diskusi membahas masa depan bioteknologi, termasuk ATMP (Advanced Therapy Medicinal Products).

Pada hari berikutnya, agenda dilanjutkan dengan business matching yang menghadirkan sepuluh booth dari luar negeri dan dua puluh perguruan tinggi nasional yang menawarkan riset mereka, menegaskan peran Gebyar ABG sebagai poros lalu lintas ide dan negosiasi.

Di akhir acara, Taruna Ikrar bersama artis Iis Dahlia, tokoh masyarakat Hercules, dan Ketua Dharma Wanita BPOM RI menanam pohon di halaman kantor, sebuah simbol metafora bahwa inovasi tumbuh dari kolaborasi dan ekosistem yang subur.

Panitia berharap Gebyar ABG menjadi agenda tahunan, menandai BPOM di bawah Taruna Ikrar sebagai regulator yang tidak hanya mengawasi masa kini, tetapi juga menyiapkan masa depan kemandirian obat dan makanan nasional.

Comment