Orasi Ilmiah STIE Indonesia Makassar: Sarjana Bukan Akhir, Melainkan Gerbang Awal Perjalanan Intelektual Sejati

Orasi Ilmiah STIE Indonesia Makassar: Sarjana Bukan Akhir, Melainkan Gerbang Awal Perjalanan Intelektual Sejati

MAKASSAR, JIVANOTES – Suasana wisuda seringkali identik dengan euforia, bunga, dan senyum kebanggaan. Namun, pada Wisuda Sarjana STIE Indonesia Makassar kali ini, suasana hening sejenak menyelimuti ruangan ketika Andryan Setyadharma, SE., M.Si., PhD, berdiri di mimbar orasi ilmiah.

Ia tidak memulai dengan janji manis tentang kesuksesan instan. Sebaliknya, ia membawa sebuah kisah tentang kegagalan yang menyelamatkan nyawa—kisah tragedi pesawat ulang alik Challenger.

“Tuhan, mengapa bukan aku yang ada di dalam pesawat itu?”

Kalimat itu dikutip Andryan dari kisah seorang guru di Amerika Serikat yang gagal lolos seleksi menjadi astronaut NASA. Sang guru hancur, marah, dan frustrasi. Namun, 73 detik setelah lepas landas, Challenger meledak di udara. Doa sang guru yang tak terkabul ternyata adalah cara Tuhan melindunginya.

“Saya bersyukur atas kegagalan-kegagalan saya di masa lalu. Kegagalan tersebut membuat saya menjadi diri saya saat ini,” ujar Andryan di hadapan para wisudawan. Pesan ini menjadi “sangu” paling realistis bagi para sarjana baru yang bersiap menghadapi dunia kerja yang penuh ketidakpastian.

Pendidikan: Jembatan Probabilitas, Bukan Jaminan

 

Dalam orasinya, Andryan menampik narasi populer “Steve Jobs drop-out tapi sukses” yang sering dijadikan pembenaran untuk meremehkan pendidikan formal. Ia menegaskan bahwa pendidikan adalah tentang memperbesar probabilitas.

“Mana yang lebih besar kemungkinan Anda mendapatkan pekerjaan layak? Seseorang yang memiliki gelar Sarjana atau yang tidak?” tanyanya retoris. Baginya, pendidikan adalah jembatan mobilitas sosial paling kokoh, sebuah investasi jangka panjang yang mengubah arah hidup dari gelap menjadi terang.

Generasi Berkarakter dari STIE Indonesia Makassar

Semangat ketangguhan yang disampaikan dalam orasi tersebut selaras dengan visi Ketua STIE Indonesia Makassar, Dr. Ilham Z. Salle, SE, M.Si, Ak. Dalam sambutannya, Dr. Ilham melaporkan bahwa pada Wisuda ke-38 ini, STIE Indonesia Makassar melepas 110 wisudawan, terdiri dari 82 orang dari Program Studi Manajemen dan 28 orang dari Program Studi Akuntansi.

Yang membanggakan, sebagian besar wisudawan adalah penerima bantuan sosial pendidikan KIP Kuliah, sebuah bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk berprestasi.

“Dunia pendidikan tidak hanya sebatas transfer ilmu. Ada hal lain yang lebih utama, yaitu mengubah karakter,” tegas Dr. Ilham.

Sejak tahun akademik 2020-2021, kampus yang kini berusia 49 tahun ini telah menerapkan pendidikan Character Building. Tujuannya jelas: melahirkan sarjana yang tidak hanya cerdas secara intelektual (memiliki SKPI dan kompetensi sesuai standar nasional), tetapi juga santun dan berbudi pekerti luhur.

Bekal Menghadapi Era Disrupsi

Wisuda kali ini juga menjadi tonggak pencapaian institusi. Prodi Manajemen telah meraih akreditasi “Baik Sekali” dari LAM EMBA, dan Prodi Akuntansi tengah bersiap untuk reakreditasi di awal 2026. Dengan kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), para lulusan diharapkan siap menghadapi era disrupsi digital dan AI.

Menutup acara, pesan Andryan kembali bergema sebagai pengingat terakhir sebelum para wisudawan melangkah keluar gedung sebagai alumni:

“Jadilah generasi yang tidak hanya mengejar kesuksesan, tetapi juga memberi manfaat. Gelar sarjana bukan hanya simbol kecerdasan, tetapi amanah untuk menjaga integritas.”

Hari ini, STIE Indonesia Makassar tidak hanya melahirkan pencari kerja, tetapi para petarung kehidupan yang siap menerima kegagalan sebagai bagian dari rencana besar Tuhan, dan menjadikan integritas sebagai kompas masa depan.

Selamat berjuang, para wisudawan!

Comment