SOLO,JIVANOTES – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menyampaikan dua kabar penting bagi dunia sains dan kesehatan Indonesia saat memberikan kuliah umum di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.
Dalam acara yang disambut antusias oleh Rektor UNS Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si., beserta jajaran, Taruna Ikrar secara resmi mengumumkan pencapaian monumental BPOM: diraihnya status WHO Listed Authority (WLA) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Otoritas Kesehatan Kelas Dunia
Status WLA menempatkan BPOM RI sejajar dengan otoritas regulasi global terkemuka, seperti Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat. Pengakuan ini diberikan kepada lembaga regulasi yang terbukti memiliki sistem pengawasan, penilaian risiko, dan tata kelola yang kuat dan konsisten dalam menjamin keamanan, mutu, dan efikasi produk kesehatan.
“Ini adalah tonggak sejarah. Dengan WLA, Indonesia kini menjadi otoritas terpercaya dunia, bukan lagi pengikut,” tegas Taruna, disambut tepuk tangan meriah. Ia menambahkan bahwa pencapaian ini menegaskan sistem regulasi kesehatan Indonesia telah mencapai standar tertinggi global.
Warisan Kedokteran dari Borneo
Sebelum mengumumkan WLA, Taruna juga memaparkan temuan arkeologi global mengenai bukti tindakan amputasi berusia 31.000 tahun di Pulau Borneo, Indonesia. Temuan ini menunjukkan pasien prasejarah tersebut berhasil bertahan hidup bertahun-tahun pasca-amputasi, sebuah capaian medis yang sangat maju untuk eranya.
Menurut Taruna, keberhasilan penyembuhan ini hampir tidak mungkin terjadi tanpa kemampuan mengendalikan rasa sakit dan infeksi. “Ini memperkuat dugaan bahwa herbal lokal telah digunakan sebagai anestesi dan antiseptik alami, jauh sebelum konsep kedokteran modern ditemukan,” jelasnya.
Mendorong Riset Herbal Berbasis Ilmiah
Taruna Ikrar menekankan bahwa status WLA harus menjadi pendorong percepatan riset herbal di Indonesia. Meskipun Indonesia kaya akan 70% tanaman obat dunia, baru 78 Obat Herbal Terstandar (OHT) dan 20 Fitofarmaka yang memiliki bukti ilmiah lengkap.
“Warisan leluhur dari Borneo membuktikan bahwa bangsa ini pernah memimpin sains pengobatan dunia. Kini, dengan legitimasi global WLA, kita memiliki kesempatan untuk kembali memimpin berbasis ilmu, data, dan regulasi yang bermartabat,” tutupnya.
Acara tersebut turut dihadiri oleh jajaran pimpinan BPOM dan Direktur RSUD Moewardi Solo, dr. Zulfachmi Wahab, SpPD, KHOM, Finasim, yang menilai paparan tersebut relevan untuk memperkuat integrasi kedokteran modern dan herbal berbasis bukti ilmiah.
Comment