JIVANOTES.COM – Kolaborasi strategis lintas negara antara dunia akademik dan industri kembali diperkuat melalui Focus Group Discussion (FGD) dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM).
Diawali dengan FGD yang melibatkan 56 perguruan tinggi se-Indonesia dengan pelaku industri Malaysia. Kegiatan yang digelar di Pudu Convention Hall, Kuala Lumpur, pada Sabtu, 24 Januari.
FGD dipimpin Prof. Usep Suhud, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta, yang menekankan pentingnya sinergi nyata antara perguruan tinggi dan dunia industri lintas negara. FGD ini menjadi ruang strategis untuk menyatukan perspektif akademik dan praktik industri.
“Kolaborasi internasional seperti ini penting agar perguruan tinggi mampu merespons kebutuhan riil industri dan tantangan global,” ujar Prof. Usep Suhud.
FGD menghadirkan Siti Khadijah Apparel, salah satu merek busana muslimah premium terkemuka di Malaysia. Sejak berdiri pada 2009, perusahaan ini dikenal konsisten mengembangkan produk yang mengedepankan kenyamanan ibadah, kualitas material, serta kepatuhan terhadap prinsip syariat Islam.

Perwakilan Siti Khadijah Apparel, Komaruddin, menegaskan bahwa industri fesyen muslimah harus dibangun di atas nilai yang kuat. Industri fesyen muslimah bukan sekadar soal produk atau tren.
“Kenyamanan ibadah, kualitas, dan identitas syariat harus menjadi fondasi utama agar busana memiliki makna spiritual, bukan hanya nilai komersial,” tegasnya.
Diskusi berlangsung dinamis. Sejumlah dosen dari berbagai perguruan tinggi tampak antusias mengajukan pertanyaan dan terlibat dalam dialog mendalam terkait integrasi nilai keislaman, inovasi desain, strategi bisnis, hingga peluang kolaborasi riset dan pengembangan sumber daya manusia.
Ketua STIM Lasharan Jaya Makassar, Associate Professor Dr. Hernita, menilai FGD ini sebagai momentum penting dalam menjembatani dunia akademik dan praktik industri.
Rangkaian agenda berlanjut pada Minggu, 25 Januari, melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) internasional. Kegiatan ini adalah program pemberdayaan pekerja migran Indonesia yang dilaksanakan di Sanggar Bimbingan Sungai Mulia, Malaysia. PkM internasional ini diwujudkan melalui pelatihan kewirausahaan yang diikuti lebih dari 100 pekerja migran Indonesia.
Pimpinan sanggar, Mimin Mintarsih, sangat mengapresiasi kegiatan yang melibatkan 73 dosen dari 55 perguruan tinggi se Indonesia.
“Melalui PkM internasional ini, kami berharap pekerja migran dapat memiliki kesiapan mental, keterampilan, dan rencana usaha yang matang agar mampu menjadi pelaku ekonomi produktif dan berdaya saing,” katanya.
Dr. Hernita menambahkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak mengenal batas geografis.
“tidak hanya pelatihan, pendampingan berkelanjutan dari dunia akademik sangat dibutuhkan agar pekerja migran memiliki visi kemandirian ekonomi ketika kembali ke Indonesia,” tutupnya.
Comment